Download
arsipe mas boneX
sms gratis
Feedjit
Tampilkan postingan dengan label dari sahabatku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dari sahabatku. Tampilkan semua postingan
Selasa, 06 April 2010
tersadar
riuh nyanyian kegundahan menemani hari-harinya kini. atas sesuatu yang masih tak mampu berkompromis.senja pun seketika tak nampak keindahannya.mematung dalam tatapan binar penantian
atas jawaban, yang mampu mengajaknya bercengkrama seperti senja dahulu kala. yang terlihat hanya bias cahaya senja yang nampak malu bersembunyi dibalik awan. masih terhenti, terdiam..
memasuki ruang kontemplasi jalan hidup yang harus dipilihnya. tersadar ini adalah nilai absolut yang harus diterima tanpa kompromi. kenyataan yang mengajarkannya. biar dia terus melangkah, mencari celah hingga nurani bicara dalam heningnya suatu masa ketika waktu terus bergulir. meski akhirnya harus terhenti. atas sesuatu yang tak mampu dijangkaunya, meski asa memaksa raga untuk berlari. melawan kepalsuan. hingga tersadr dirinya hanya seorang hawa. semoga asa ini tak akan lari. setia hingga menjemput momentum dalam pengabdian. yang menampakkan keindahan sejati seorang manusia.
Label:
dari sahabatku
|
0
komentar
berontak
Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
Di sana bersemayam kemerdekaan
Apabila engkau memaksa diam
Aku siapkan untukmu: pemberontakkan!
Rangkaian kata tersebut melukiskan secara memukau tentang suara rakyat oleh Wiji Thukul. Suara yang selama ini tak pernah mampu mereka(penguasa) tangkap. Tapi kini suara itu menembus batas-batas pertahanan. Mendongkrak batang-batang keberanian. Berjajar menampakkan kekokohan dalam barisan perlawanan. Menggelegar menelan apapun bentuk ketidakadilan dalam gemuruh riuh suara rakyat. Itulah yang kini terjadi. Keberanian untuk mengembalikan keadilan atas mereka yang berani bertanya akan haknya. Keadilan atas nilai kemanusiaan yang terpicikan dalam tatap seorang borjuis yang memiliki hak istimewa dalam dekap kekuasaannya. Itulah negeriku kini…
Namun.. kolektif jiwa kepahlawan itu berangsur tumbuh. Riak suara kegundahan menyisir sepanjang bumi pertiwi. Desakan nurani yang selama ini terbungkam. Dalam momentum yang sedang diuji nilai eksistensi dalam perjuangannya. Perlawanan atas nilai keadilan, kebebasan dalam cengkraman kolonial borjuis.
Perlawanan itu, bukan lagi pada sang bule yang kita kenal sebagai kompeni. Tetapi mereka adalah putra asli negeri yang menjajakan diri pada pesona duniawi. Buah kapitalis yang menodai nilai perjuangan yang telah ditorehkan para pahlawan negeri ini
Para pahlawan yang pada hari ini dikenang sebagai hari bersejarah akan sebuah nilai perjuangan. Yang meneteskan benih keberanian. Janji-janji para punggawa yang menyajikan suguhan kenikmatan dan kenyamanan dunia. Dengan tegas mereka tolak dalam sikap ksatria yang mereka tunjukkan. Menangkis segala bentuk kompromis. Yang mengakar dalam penindasan dan penumpulan nurani.
Semoga hari pahlawan ini, mampu merajut asa dalam hela nafas para pejuang. Menggaungkan suara yang terbungkam. Ketika rakyat bersuara..
Label:
dari sahabatku
|
0
komentar
Diet ala Rasululloh
Bismillaah...
Rupanya tanpa disadari, dalam makanan yang kita makan sehari-hari, kita tak boleh sembarangan. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit antara lain penyakit kencing manis, lumpuh, sakit jantung, keracunan makanan, de el el.
Ust Abdullah Mahmood mengungkapkan, Rasulullah SAW tak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai menjaga makanan sehari-hari. Insyaa Allooh kalau Anda mengikuti diet Rasulullah SAW ini, Anda takkan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan. Yu intips infonyeee.... ^_^
Jangan makan SUSU feat DAGING
Jangan makan DAGING feat IKAN
Jangan makan IKAN feat SUSU
Jangan makan AYAM feat SUSU
Jangan makan IKAN feat TELUR
Jangan makan IKAN feat DAUN SALAD
Jangan makan SUSU feat CUKA
Jangan makan BUAH feat SUSU
--------------------------
--------------------------
--------------------------
---------------------
Cara Makan:
* Jangan makan buah setelah makan nasi, sebaliknya makanlah buah terlebih dahulu, baru makan nasi.
* Tidur 1 jam setelah makan tengah hari (30 menit cukup bagi Anda yang jam istirahat siangnya terbatas alias s-i-b-u-k...
* Jangan sesekali meninggalkan makan malam. Barang siapa yang meninggalkan makan malam dia akan dimakan usia dan kolesterol dalam tubuh akan berganda. Hiiiiiii... Dampaknya akan kita rasakan ketika tua. Untuk yang takut gemuk (seperti saya, wkwk), makan malam boleeeh dech dilakukan dibawah jam 7 malam.
* Dalam Al-Quran juga melarang kita makan makanan darat bercampur dengan makan laut. Nabi pernah mencegah seorang sahabat makan ikan bersama susu karena akan cepat mendatangkan penyakit. Ini terbukti oleh ilmuwan yang menemukan bahwa dalam daging ayam mengadung ion+ sedangkan dalam ikan mengandung ion-, jika dalam makanan kita ayam bercampur dengan ikan maka akan terjadi reaksi biokimia yang akan dapat merusak usus kita. (Ughh biokimia jd inget kuliah, hehe)
* Al-Quran juga mengajarkan kita menjaga kesehatan seperti melakukan beberapa amalan antara lain:
1. Mandi pagi sebelum subuh, sekurang-kurangnya sejam sebelum matahari terbit. Air sejuk yang meresap kedalam badan dapat mengurangi penimbunan lemak. Kita boleh saksikan orang yang mandi pagi kebanyakan badannya tidak gemuk. (yg gemuk berarti mandinya telat mulu donk? Xixixi)
2. Rasulullah SAW menganjurkan minum segelas air dingin (bukan air es) setiap pagi. Manfaatnya Insya Allah jauh dari penyakit.
3. Ketika sholat subuh disunatkan untuk bertafakur (yaitu sujud sekurang-kurangnya satu menit setelah membaca doa). Kita akan terhindar dari sakit kepala dan migrain. Ini terbukti oleh para ilmuwan yang membuat kajian kenapa dalam sehari kita perlu bersujud. Ahli-ahli sains telah menemukan beberapa milimeter ruang udara dalam saluran darah di kepala yang tidak dipenuhi darah. Dengan bersujud maka darah akan mengalir ke ruang tersebut.
4. Nabi juga mengajarkan kita untuk makan dengan tangan (tidak memakai sendok) dan bila habis hendalah menjilat jari.
5. Begitu juga ahli sains telah menemukan bahwa enzim banyak terkandung di celah jari-jari, yaitu 10 kali ganda terdapat dalam air liur.
Sabda Nabi,
"Ilmu itu milik Allah, barang siapa menyebarkan ilmu demi kebaikan InsyaAllah Allah akan menggandakan 10 kali kepadanya."
Label:
dari sahabatku
|
0
komentar
DAMPAK PEMINDAHAN IBUKOTA KABUPATEN PEKALONGAN DARI KOTA PEKALONGAN KE KAJEN TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN PEKALONGAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam rangka memperlancar pembangunan di segala bidang yang tersebar diseluruh pelosok tanah air diperlukan hubungan yang serasi antara pembangunan nasional dan pembangunan daerah. Salah satu prioritas pembangunan adalah mempercepat pembangunan ekonomi daerah yang efektif dan kuat dengan memberdayakan pelaku dan potensi ekonomi daerah serta memperhatikan penataan ruang, baik fisik maupun sosial sehingga terjadi pemerataan pembangunan sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah. Kebijaksanaan pembangunan dilakukan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan cara memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada. Namun hasil pembangunan kadang belum dirasakan merata dan masih terdapat kesenjangan antar daerah.
Pembangunan daerah tidak terlepas dari pembangunan nasional, sehingga strategi pembangunan nasional menjadi pedoman bagi pembangunan daerah. Kebijakan pembangunan nasional menjadi pedoman daerah diarahkan untuk mengembangkan daerah dengan mengoptimalkan potensi yang dimiliki daerah, menyesuaikan laju pertumbuhan antar daerah, juga memacu pemerataan pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan yang berlangsung secara menyeluruh dan berkesinambungan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Pencapaian hasil-hasil pembangunan yang sangat dirasakan masyarakat tidak terlepas dari usaha keras secara bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat. Potensi daerah dan kekayaan alam dapat dilihat sebagai keunggulan komparatif bagi daerah, namun di sisi lain berbagai kendala seperti sumber daya manusia dan sumber modal untuk memanfaatkan potensi tersebut masih dihadapi oleh penentu kebijakan baik di tingkat propinsi maupun di tingkat daerah kabupaten/ kota.
Akibatnya kondisi perekonomian masyarakat secara umum belum mencapai tingkat pemerataan pendapatan yang sama dan masih ditemui kekurangan, diantaranya kesenjangan antar wilayah kabupaten/ kota dalam pencapaian tingkat perekonomian. Disparitas ekonomi dan sosial juga berdampak terhadap mobilitas sosial yang kurang menguntungkan dengan adanya para urban. Arus urbanisasi bergerak dari daerah yang tingkat perekonomiannya lebih rendah (desa) menuju ke daerah yang tingkat perekonomiannya lebih tinggi (kota). Masalah yang ditimbulkan oleh arus urbanisasi ini adalah pemukiman kumuh, kejahatan, penyediaan lapangan pekerjaan yang memadai, lingkungan dan lainnya. Masalah tersebut tentu tidak mudah diselesaikan dan dapat menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu berbagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengatasi disparitas ekonomi antar daerah sudah saatnya dilakukan dengan intensif.
Tujuan pembangunan ekonomi pada umumnya adalah peningkatan pendapatan riil per kapita serta adanya unsur keadilan atau pemerataan dalam penghasilan dan kesempatan berusaha (Suparmoko, 2002:99). Dengan mengetahui tujuan dan sasaran pembangunan, serta kekuatan dan kelemahan yang dimilki suatu daerah, maka strategi pengembangan potensi yang ada yang ada akan lebih terarah. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta pemerataan pendapatan diharapkan dapat terwujud karena ”pertumbuhan ternyata sedikit sekali manfaatnya bagi perubahan tingkat hidup atau kesejahteraan masyarakat apabila tidak diikuti dengan pemerataan pendapatan” (Prayitno, 1986:67). Untuk itu, usaha peningkatan pertumbuhan ekonomi harus diimbangi dengan upaya untuk mengurangi disparitas pendapatan.
Pada Tanggal 14 Agustus 1950 terbit PP No. 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Kota Pekalongan. Berdasarkan PP ini wilayah Kota Administratif Pekalongan dibentuk menjadi daerah Kota Pekalongan, yang lepas dari Kabupaten Pekalongan. Berkaitan itu terbit pula Peraturan Pemerintah No. 48 tahun 1986 tentang pemindahan Ibukota Kabupaten Dati II Pekalongan dari Wilayah Kotamadya Dati II Pekalongan ke Kajen di Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Pekalongan. Berbagai persiapan untuk menindaklanjuti terbitnya peraturan Pemerintah ini, dilakukan sejak tahun 1988. Dengan semangat untuk membangun Kabupaten Pekalongan yang lebih sejahtera, maka diputuskan untuk segera memindahkan ibukota Kabupaten Pekalongan dari Jalan Nusantara, Kota Pekalongan, ke Kajen. Proses pemindahan diawali dengan peresmian sekaligus penggunaan gedung Sekretariat Daerah Kabupaten Pekalongan di Kajen oleh Wagub I Bidang Pemerintahan atas nama Gubernur Jawa Tengah pada tanggal 25 Agustus 2001. Sejak saat itu, resmilah pemindahan pusat pemerintahan Kabupaten Pekalongan dari wilayah Kota Pekalongan ke Kajen wilayah Kabupaten Pekalongan.
Kajen yang merupakan salah satu dari 19 kecamatan yang ada di Kabupaten Pekalongan hingga awal tahun 2001 belum begitu luas dikenal. Wilayah dengan luas 75,15 Km2 ini, menyediakan areal lebih dari 68.115 m2 untuk dijadikan pusat pemerintahan. Rumah Dinas Bupati, Kantor Sekretariat Daerah, beserta kelengkapan perangkat Pemerintah Daerah lainnya secara bertahap dibangun di Ibukota kabupaten yang baru ini.
Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Pekalongan menyatakan bahwa permasalahan utama dalam pembangunan ekonomi Kabupaten Pekalongan adalah pertumbuhan yang tidak merata antara satu kecamatan dengan kecamatan lain. Hal ini menyebabkan kesejahteraan hanya dinikmati oleh masyarakat di kecamatan tertentu saja. Langkah pemerintah untuk memindahkan ibukota ke Kajen dianggap tepat karena letak Kajen relatif berada di tengah-tengah Kabupaten Pekalongan. Akibat pemindahan ibukota tersebut diharapkan pemerataan pembangunan di masing-masing kecamatan dapat terwujud. Selain itu, pemerataan pembangunan juga ditujukan agar sektor-sektor potensial yang ada di wilayah selatan dapat dimanfaatkan dengan baik sehingga dapat memberikan kontribusi yang maksimal pada peningkatan PDRB Kabupaten Pekalongan.
Dari data PDRB yang dirinci menurut kecamatan selama delapan tahun diketahui adanya kecamatan yang begitu dominan, yaitu Kecamatan Buaran, Wiradesa, Kedungwuni, serta Kajen sebagai ibukota baru. Pada sisi lain terdapat kecamatan yang begitu tertinggal yaitu Kecamatan Lebakbarang, Petungkriyono, dan Karangdadap serta kecamatan-kecamatan lain yang meskipun berbatasan langsung dengan Kajen tetapi belum mengalami pertumbuhan ekonomi yang baik sehingga dapat menyebabkan distribusi pendapatan yang tidak merata antar kecamatan di Kabupaten Pekalongan.
Menurut Irawan dan Suparmoko (1992:101), perbedaan antara negara yang sudah maju dengan negara yang berpendapatan rendah tidak terletak pada tersedianya sumber alam, tetapi terletak pada tingkat penggunaan sumberdaya-sumberdaya yang ada. Hal ini berarti bahwa keadaan alam di setiap kecamatan di Kabupaten Pekalongan tidak dapat dijadikan alasan adanya ketimpangan pertumbuhan ekonomi. Dengan perencanaan dan strategi pembangunan yang tepat seharusnya ketimpangan tersebut dapat dihilangkan atau paling tidak dapat diminimalisasi.
Pemindahan ibukota menimbulkan dampak negatif yang dirasakan oleh masyarakat, terutama masyarakat Kajen yang tanahnya digunakan untuk pembangunan gedung-gedung pemerintahan yang baru. Tanah yang digunakan adalah lahan produktif yang dimiliki oleh masyarakat yang berupa lahan sawah dan hutan. Tanah dengan luas lebih dari 68.115 m² itu secara bertahap diambil alih oleh pemerintah. Penggusuran lahan untuk pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan. Hingga tahun 2009 ini, dinas-dinas pemerintahan juga belum semuanya berada di Kajen, seperti Dinas Pertanian, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Kesehatan, Koperasi dan Pengadilan Negeri yang masih berkedudukan di Kota Pekalongan, padahal pemerintah berencana menempatkan semua kantor di Kajen, ini berarti tugas pemerintah Kabupaten Pekalongan masih panjang serta dana yang dibutuhkan juga semakin besar.
Proses pemindahan ibukota Kabupaten Pekalongan dari Kota Pekalongan ke Kajen juga tidak langsung berjalan dengan mulus. Pada awal pemindahan, sebagian pegawai menentang, karena sebagian dari mereka tinggal di Kota Pekalongan, artinya cost mereka membengkak karena jarak Kajen dari Kantor semula cukup jauh. Di sisi lain, membangun kota baru memerlukan dana yang cukup besar, bahkan teramat besar bagi daerah dengan PAD yang kecil seperti Kabupaten Pekalongan. Hingga 2001, PAD baru sebesar 12,73 Miliar, padahal untuk memindahkan ibukota Kabupaten Pekalongan ke Kajen memerlukan dana keseluruhan sekitar 72 Miliar (sumber : Bagian Humas Setda Kabupaten Pekalongan), dan waktu itu, semua menjadi tanggungan Pemerintah Kabupaten Pekalongan karena pemindahan ibukota bersamaan dengan pelaksanaan otonomi daerah.
Pemindahan ibukota kabupaten merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh banyak pemerintah kabupaten di Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah serta mewujudkan pemerataan pembangunan dan mengurangi ketimpangan pendapatan di masing-masing kecamatan, tetapi hingga saat ini belum diketahui apakah pemindahan ibukota kabupaten tersebut merupakan langkah yang tepat atau tidak. Oleh karena itu sangat penting untuk menelaah pemindahan ibukota kabupaten suatu daerah apakah memberikan dampak yang positif pada pertumbuhan ekonomi daerah tersebut atau sebaliknya, mengingat pemindahan ibukota memerlukan dana yang sangat besar.
PDRB Kabupaten Pekalongan setelah pemindahan ibukota ke Kajen mengalami peningkatan, tetapi belum diketahui apakah laju pertumbuhannya dari tahun ke tahun lebih besar dari sebelum pemindahan atau justru lebih kecil. Pertumbuhan setelah pemindahan ibukota juga disertai dengan ketidakmerataan PDRB antar wilayah kecamatannya. Dengan demikian yang menjadi pokok permasalahan disini adalah laju pertumbuhan sebelum dan sesudah pemindahan ibukota serta distribusi pendapatan dimasing-masing kecamatan mengingat pertumbuhan ekonomi yang tinggi sedikit sekali manfaatnya jika tidak disertai dengan pemerataan distribusi pendapatan.
Dengan pemindahan ibukota ke Kajen, seharusnya pemerataan antar kecamatan dapat terwujud. Pemerintah Kabupaten Pekalongan harus bisa memanfaatkan sumberdaya-sumberdaya yang dimilikinya yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan pemberdayaan tersebut akan memberikan manfaat terhadap pertumbuhan ekonomi serta ketimpangan pendapatan antar kecamatan dapat diperkecil.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka penulis ingin mengangkat skripsi dengan judul ”Analisis Dampak Pemindahan Ibukota Kabupaten Pekalongan dari Kota Pekalongan ke Kajen terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Pekalongan”
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang hendak dibahas dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pekalongan sebelum dan sesudah pemindahan ibukota dari Kota Pekalongan ke Kajen?
2. Seberapa besar ketimpangan pendapatan antar wilayah kecamatan di Kabupaten Pekalongan sebelum dan sesudah pemindahan ibukota dari Kota Pekalongan ke Kajen?
3. Adakah kemungkinan kebijakan alternatif pengganti pemindahan ibukota kabupaten?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai oleh penulis dalam penelitian ini adalah:
1. Menganalisis laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pekalongan sebelum dan sesudah pemindahan ibukota dari Kota Pekalongan ke Kajen.
2. Menganalisis seberapa besar ketimpangan pendapatan antar wilayah kecamatan di Kabupaten Pekalongan sebelum dan sesudah pemindahan ibukota dari Kota Pekalongan ke Kajen.
3. Mengetahui kemungkinan kebijakan alternatif pengganti pemindahan ibukota kabupaten.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
1.4.1 Bagi Pengembangan Ilmu
Pembaca memperoleh pengetahuan tentang dampak pemindahan ibukota Kabupaten Pekalongan dari Kota Pekalongan ke Kajen terhadap pertumbuhan ekonomi.
1.4.2 Bagi Kepentingan Praktik
1. Sebagai sumbangan pemikiran bagi pemerintah Kabupaten Pekalongan dalam melaksanakan pembangunan daerah terutama dalam upaya mengurangi kemiskinan melalui pemerataan pembangunan.
2. Sebagai bahan pertimbangan bagi daerah lain yang hendak melakukan pemindahan ibukota.
Label:
dari sahabatku
|
0
komentar
sekedar cerita
Dikisahkan sepasang suami istri yang bekerja meninggalkan anaknya yang berusia tiga tahun bernama Ita, bersama sang pembantu di rumah. Namanya anak-anak yang suka mengeksplorasi diri, Ita pun demikian. Sambil bermain dia mencoret-coret tanah di halaman dengan lidi, sementara pembantunya menjemur kain di garasi, puas dengan mencoret tanah, ia menemukan sebuah paku dan mulai mencoba untuk menggores-gores mobil ayahnya yang berwarna hitam. Karena masih baru, mobil tersebut jarang digunakan oleh ayahnya ke kantor. Maka, penuhlah mobil tersebut dengan coretan gambar Ita.
Begitu ayahnya pulang, dengan bangga Ita memberi tahu tentang gambar-gambar yang sudah di buat di mobil ayahnya tersebut. Bukan pujian yang diterimanya, melainkan kemarahan yang sangat besar. Pertama kali yang kena damprat adalah sang pembantu karena dianggap tak mengawasi Ita di rumah. Baru giliran anaknya yang dihukum. Demi mendisiplinkan anak, maka si Ayah mulai mengajarkan anaknya, tidak hanya dengan kata-kata melainkan dengan pukulan. Dipukullah kedua telapak tangan dan punggung tangan anaknya dengan apa saja yang ditemukan disitu. Mulai dengan mistar, ranting, sampai lidi disertai luapan emosi yang tak terkendali.
''Ampun, 'Bah!sakit... Sakit, ampun!'' jerit Ita sambil menahan sakit tangannya yang sudah mulai berdarah-darah. Si Ibu hanya diam saja, seolah-olah merestui tindakan disiplin yang ditegakkan suaminya.
Puas menghajar anaknya, si ayah menyuruh pembantu untuk membawa Ita ke kamarnya. Dengan hati yang teriris, sang pembantu membawa Ita ke kamarnya. Sore hari ketika dimandikan, Ita menjerit-jerit menahan pedih. Esoknya tangan Ita mulai membengkak, sementara Ayah Ibunya tetap bekerja seperti biasa. Ketika dilaporkan oleh pembantunya, Ibu Ita hanya mengatakan, ''Oleskan obat saja!''.
Hari berganti hari hingga suhu badan Ita mulai panas karena luka tangannya sudah terinfeksi. Ketika dilaporkan, orang tuanya pun hanya mengatakan supaya diberi obat penurun panas. Hingga suatu malam, panasnya semakin tinggi, bahkan Ita mulai mengigau. Buru-buru mereka membawa Ita ke rumah sakit pada malam itu juga.
Hasil diagnosis dokter menyimpulkan bahwa demam Ita berasal dari tangannya yang sudah terinfeksi dan busuk akibat luka-lukanya. Setelah seminggu diopname di sana, dokter mengatakan kepada ayah dan ibunya dan mengatakan ''Tidak ada pilihan lain....'
dokter mengusulkan agar kedua tangan anak itu diamputasi karena infeksi yang terjadi sudah terlalu parah, ''ini sudah bernanah dan membusuk, untuk menyelamatkan nyawa Ita, tangannya harus diamputasi?''
mendengar berita ini, orang tua Ita bagai disambar petir. Dengan air mata berurai dan tangan bergetar, mereka menandatangani surat persetujuan amputasi anak yang paling dikasihinya.
Setelah sadar dari pembiusan operasinya, Ita terbangun sambil menahan rasa sakit dan bingung melihat tangannya yang dibalut kain putih. Lebih kaget lagi dia melihat kedua orangtuanya dan pembantunya menangis disampingnya. Sambil menahan rasa sakit, Ita berkata kepada orang tuanya ''Abah... Mama, Ita tidak akan melakukannya lagi... Ita sayang Abah, sayang Mama, juga sayang Bibi. Ita minta ampun sudah mencoret-coret mobil Abah!'' Si Ibu dan Ayah semakin menangis mendengar kata-kata Ita tersebut.
''Bah, sekarang tolong kembalikan tangan Ita, untuk apa diambil, Ita janji tidak akan melakukannya lagi. Bagaimana kalau nanti Ita mau main dengan teman-teman karena tangan Ita sudah diambil. Abah.. Mama, tolong kembaliin, pinjam sebentar saja, Ita mau menyalami Abah, Mama, dan Bibi untuk minta maaf!''
Label:
dari sahabatku
|
0
komentar
Kamis, 18 Februari 2010
senja
Senja menyelimuti hari-harinya. Bersambut gelap merayap menyisir hidupnya. Angin malam menyapa seolah membisikan inilah cinta. Energi yang memberimu kekuatan menjalani hidup. Mungkin tak kau pahami maksudnya. Getir pahit kehidupan yang dilaluinya. Menyisakan perih, pilu dalam sanubari.
Dikeheningan malam, tafakur dalam kesyahduan. Merindu janji-Mu Tuhan, bantuan dalam perjuangan yang tak bertepi. Persinggahan dunia yang melenakan, menghanyutkan jiwa-jiwa kosong dalam keindahan fatamorgana. Menari-nari dalam kebahagian semu, bersambut dengan hari yang hanya Kau yang tau, tentang pembuktian janji-janji-Mu. Kau teteskan air mata, mohon ampun atas segala dosa. Berharap terangkat penghijab kalbu. Antara kau dan Allah. Senja yang menghantarkan hari-harinya, menyambut usia yang semakin lapuk. Ya Rabb, bimbinglah dirnya dalam menggapai ridha-Mu, menyambut cinta-Mu, pimpinlah dia dalam RidhaMu, sayangilah dia dengan rahmat-Mu, Kaulah penjaga terbaik untuknya. Jika ini, adalah jalan untuk pembuktian cintanya pada-Mu. Maka bimbimbinglah dia menapaki jejak berliku ini. Dalam hela nafas kau lantunkan doa dalam kepasrahan hidup yang kau gantungkan pada Allah, selalu terangkai dalam heningnya sepertiga malam, dalam sujud panjangmu, dalam tetes air mata. Asal kau tau, sesungguhnya air mata karena Allah dapat memadamkan lautan api neraka bu.. Oleh karena itu, menangislah ceritalah pada-Nya, karena Dia begitu dekat dengan hamba-Nya yang selalu mencoba untuk mendekat. Ku tau, terasa sempit hidup ini untukmu. Ku tau, mungkin terasa berat beban di pundakmu. Tapi sungguh, ku yakin Allah lebih tau itu. Bukan untuk membuatmu menderita, karena Allah tak kan mendzalimi hamba-Nya. Tapi karena Allah mencintaimu. Yakinlah, ini cinta-Nya. Karena keterbatasan kitalah, yang tak mampu menerjemahkan sentuhan cinta-Nya. Kelak kita pasti mengerti.
selalu kau bisikkan pengharapan pada ksatriamu, atas kerinduan dekapan perlindungan, bimbingan dan teladan sosok lelaki yang tak pernah ia temukan jawabannya untukmu jadilah ksatria dengan kelembutan hati yang menghujam, kau akan memilikinya, jika mencintai-Nya. Untukmu, melati kau symbol kesucian, keindahan, semailah cinta dalam setiap langkahmu. Untuk mencintai hidup ini.. karena kalian hadir dengan cinta..
by. Eno Dian. G
by. Eno Dian. G
Label:
dari sahabatku
|
0
komentar
jalan yg kan kau pijak.??????
Pengalaman membawaku dalam kontemplasi sistem pelayanan publik negeri ini. Menyentuh pokok persoalan bangsa ini, dalam segi tiga bermuda kemiskinan, kebodohan dan kesehatan. Tingkat kesejahteraan negeri ini yang memprihatinkan belumlah jua mendapatkan titik terang untuk perbaikan kesejahteraan rakyat. Diatas kondisi kesejahteraan/perekonomian yang memburuk, tidak kemudian ditundukannya pelayanan publik untuk dapat merangkul atau pun mengulurkan tangan untuk menopang kondisi tersebut. Sangat menyedihkan, jika saya sedikit menguraikan beberapa kebijakan yang tidak memihak pada rakyat kecil sebagai tokoh utama pewayangan yaitu sang korban semakin terpuruk, tidak berdaya dalam kendali penguasa tirani. Semua bentuk pelayanan negeri ini sudah mengedapankan komersialisasi sebagai tiket untuk mengakses pelayanan tersebut. Mulai dari pendidikan hingga kesehatan. Seyogyanya dua elemen tersebut menjadi pondasi yang harus mendapatkan perhatian serius untuk membangun negeri ini dari keterpurukan. Tulisan ini, berawal dari pengalaman saya. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah, merenungkan, dan memenuhi panggilan nurani!
Mencapai kedewasaan pemerintahan maka sudah saatnya untuk memberi ruang publik menilai, memutuskan dan mengevaluasi atas kinerjanya. Pada saat ini, aku beranikan diri untuk mengisi ruang itu. Meski tak menggaung namun ku ingin memberi makna. Saya katakana, jika ekonomi merupakan level paling dasar yang bertanggungjawab terhadap kesejateraan negeri, disusul dengan akses pendidikan upaya keluar dari kebodohan, kemudian akses kesehatan sebagai indicator kesejahteraan suatu bangsa.
Maka, bukankah ketiganya harus saling merangkul dan menopang dalam menyikapi setiap persoalan. Ketika keterpurukan ekonomi, ketidakmampuan mengakses pendidikan, hingga berselimut kebodohan dan ketidaktahuan, maka sang kakak “kesehatan” berlaku semena-mena memanfaatkan ketidaktahuan dan keterbatasan ekonomi? Hampir, mungkin saya termasuk korban perangkat jaringannya. Entah bagaimana dengan yang lain? Menyadarinya? Atau hanyut dalam jaringannya? Sungguh, betapa ilmu sangat berarti. Termasuk menangkal sikap arogansi dan kesewenang-wenangan. Atas ketidaktahuan, ketidakberanian, maka akan muncul sikap keserakahan dan kesewang-wenangan. Karena kehadiran arogansi, keserkahan yang bersarang dalam tirani, kita pun turut bertanggungjawab. Dengan membiarkannya terlena dalam kelalaian, dengan apatisnya sikap atas kesewenangan, atas ilmu yang belum atau tidak kita ketahui kebenarannya. Itu semua akan menguatkan tirani dan penjajahan. Maka, untuk kawan2 yang masih memandang ilmu politik sebagai sesuatu yang menjijikan, tapi kehadirannya yang di topang ilmu Agama maka akan menyulut simpul keberanian dan menjadi cahaya dalam gulita. Minimalnya mampu menerangi jalan yang kita tapaki.
Saya tidak bisa menutup mata, jika ternyata mendapatkan kekecewaan dari wadah yang akan menjadi “rumah” saya, bidang kesehatan. Bidang yang kelak ingin ku dedikasikan waktu, energi, dan piranku dalam pengabdian. Tersimpan berjuta impian untuk menjadikannya sahabat dalam perjalanan menuju Bangsa yang sejahtera. Tempat bernaung dalam kerasnya perjuangan hidup, ketika kemiskinan tak bisa mereka lawan, ketika pendidikan tak mampu mereka akses. Maka aku ingin, mendekapnya dalam sentuhan sayang, dan ingin ku berbisik “masih ada aku disini, dengan Rida Allah, kau adalah rajaku.. “. Tapi, akankah itu hanya mimpi? Ditengah menguatnya realita kebusukan yang aku cium satu persatu, mencabik asa penuh harap akan ketulusan pengabdian. Masih adakah mereka-mereka yang terpanggil dan mengulurkan tangan, “aku bersamamu..!”.
Kini, ditempatku berdiri.. terpaku dalam tatapan kegetiran perjuangan. menyisakan pilu yang mengiris. Meraung dalam asa tak menentu. Hanyut dalam perenungan tentang jual-beli hari esok, antara realita dan idealisme. Berjuang membangun dan mewujudkannya dalam sisa-sisa energi yang terampas realita? Atau menyiksa nurani dengan menumpulkan fitrahnya? (naudzubillah) Semoga masih ada mereka-mereka yang terpanggil, dan menjawab panggilannya. Untukmu kawan dan untukku, semoga kita menjadi bagian mereka yang tegar saat yang lain runtuh, yang tegas saat yang lain bimbang, yang kuat menerjang realita pahit, dan apapun yang menghalangi mimpi kita, dalam bingkai pengabdian. Kami berlindung dan mohon ampun pada-Mu Rabb, atas apa yang belum bisa kami lakukan dalam menegakkan dien-Mu. Kami mohon berikanlah kekuatan untuk kami menyusuri jalan yang pernah Rasul-Mu tapaki. Aku berlindung akan hari esok yang menjadi milikku. Dekaplah mimpi ini..
by. Eno Dian. G
Label:
dari sahabatku
|
0
komentar
Rabu, 17 Februari 2010
penerus masa depan
atas jawaban, yang mampu mengajaknya bercengkrama seperti senja dahulu kala. yang terlihat hanya bias cahaya senja yang nampak malu bersembunyi dibalik awan. masih terhenti, terdiam..
memasuki ruang kontemplasi jalan hidup yang harus dipilihnya. tersadar ini adalah nilai absolut yang harus diterima tanpa kompromi. kenyataan yang mengajarkannya. biar dia terus melangkah, mencari celah hingga nurani bicara dalam heningnya suatu masa ketika waktu terus bergulir. meski akhirnya harus terhenti. atas sesuatu yang tak mampu dijangkaunya, meski asa memaksa raga untuk berlari. melawan kepalsuan. hingga tersadr dirinya hanya seorang hawa. semoga asa ini tak akan lari. setia hingga menjemput momentum dalam pengabdian. yang menampakkan keindahan sejati seorang manusia.
hentakan kaki melangkah dg tegas, pantulkan suara penuh isyarat keberanian. tujuan itu, telah jelas terpatri. meski jelas aral menghalang. tanpa sadar, langkah2 itu kini kian mendekat. mencium aroma ketakutan, getir, dan asa dlm pangkuan rindu. aroma itu.. membuat nyali menciut, ingin menoleh pada hari yang penuh impian dan keberanian itu.
Label:
dari sahabatku
|
0
komentar
ketidakadilan
Seperti biasa, sore ketika senja masih setia menampakkan keanggunannya. Ditempat peraduan ilmu menyusuri jalan, merentas kegalauan rasa ingin tauku. Dia pun masih membuatku tertarik untuk menatapnya, hingga membuatku tersenyum. Namun kembali sang angin membuatnya menunduk malu, dengan gerakan lembut dan tersimpan nilai estetik dalam setiap gemulainya. Menebarkan kembang putih yang menjadi pesonanya, hingga menyentuh pipiku yang geli dibuatnya. Itulah dia, masih tentang ilalang sore ini. Tak lupa sang angin pun berbisik lembut padaku, membuatku tertawa tentang parodi bumi manusia yang sedang mementaskan dua lembaga penegak hukum. Senyum getir yang tepatnya. Menarik nafas untuk menjawab pertanyaan sang angin. Yang entah begitu kelu diri ini untuk menjawab. Sesungguhnya, dalam batinku berkata semuanya sedang menunggu. Menunggu hari ketika tangan, hati, kaki, dan semua yang ada pada diri kita dimintai kesaksiannya. Termasuk pentas parodi di bumi manusia pada saat ini. Ketika raja dan ratu tikus mungkin kini sedang tertawa menantikan hidangan makan malam dalam benteng tiran yang kokoh. Menyaksikan sang kucing terperangkap harimau (bosen istilah cicak-buaya>bosem, ganti kucing-harimau, red). Jangan biarkan terlalu lama, karena rakyat sudah jengah menanti jawaban. Dalam penafikkan rasa ketidakadilan. Jangan biarkan terlalu lama, karena luka sudah menyayat terlalu dalam. ketika sang tiran kembali berjaya. Dalam jual beli kebenaran. Cukup! Hentikan! Biar kini, kami yang bergerak. Menyulut api kebebasan dari kedzaliman dan ketidakadilan yang bersarang dalam kekuasaan. karena mungkin selama ini, kami terbuai, terdiam.. semoga ini, bisa menjadi awal munculnya percikan keberanian melawan ketidakadilan.
Label:
dari sahabatku
|
0
komentar
sebuah pena
"ketika pena tulip menari"
apa kata yang hendak kau rangkai?
ku tau kata tak mampu bercerita atas tawa pada sekuntum mawar
atau pun tentang angin yang lambat-lambat semakin kencang dan sekonyong-konyong merobohkanmu..
ku mengerti, hadirmu bukan untuk menyerah dan merobohkan diri..
berdiri dalam sendiri
tak membuat hilang pesonamu
kau indah..
atas ketegaran yang tampak pada langkah-langkah penuh duri
bulir-bulir lembut air mata tak membuatmu lemah
butiran pasir dalam terik tak membuatmu menjadi kasar
dan ketika angin pun pergi menghianati kesejukannya
tak membuat senjamu luput dalam kelabu
berjuta rasa meluap dalam kata bersahaja
menambah kelembutan dalam pesonamu
dan ketika pena tulip menari
tak ada kata yang akan terangkai
tak ada kiasan..
yang ada kesetiaan
pada penantian mentari
apa kata yang hendak kau rangkai?
ku tau kata tak mampu bercerita atas tawa pada sekuntum mawar
atau pun tentang angin yang lambat-lambat semakin kencang dan sekonyong-konyong merobohkanmu..
ku mengerti, hadirmu bukan untuk menyerah dan merobohkan diri..
berdiri dalam sendiri
tak membuat hilang pesonamu
kau indah..
atas ketegaran yang tampak pada langkah-langkah penuh duri
bulir-bulir lembut air mata tak membuatmu lemah
butiran pasir dalam terik tak membuatmu menjadi kasar
dan ketika angin pun pergi menghianati kesejukannya
tak membuat senjamu luput dalam kelabu
berjuta rasa meluap dalam kata bersahaja
menambah kelembutan dalam pesonamu
dan ketika pena tulip menari
tak ada kata yang akan terangkai
tak ada kiasan..
yang ada kesetiaan
pada penantian mentari
Label:
dari sahabatku
|
0
komentar
Langganan:
Postingan (Atom)
jam
Jumlah pengunjung
Laskar X-Pan City
- Perawat Ksatria Indonesia
- Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia
- Dunia telah memberikan arti bagi hidupku. Saya hanyalah anak kampung yang tidak ingin ketinggalan dengan kemajuan teknologi. Bukan saatny orang kampung termarjinalkan. Sekarang adalah saatnya untuk maju. membuka bakat terpendam yang dimiliki oleh orang kampung seperti saya ini.
Perjalananku
- [TIPS] (8)
- anak (2)
- askep (6)
- bedah (10)
- bisnisku (5)
- curahan hatiku (9)
- dari sahabatku (10)
- gawat darurat (4)
- GIZI (1)
- hanya cerita (2)
- Hiburan (5)
- ilmu (22)
- ilmu jiwa (1)
- informasi (12)
- kulit (1)
- maternitas (2)
- motivasi (2)
- musik (1)
- my fam (1)
- obat (1)
- pedoman perawat (1)
- penyakit dalam (3)
- skripsi (1)
- SYARAF (1)
- teman (2)
- Untuk mengingatkan (11)
- VITAMIN (6)