Download
arsipe mas boneX
sms gratis
Feedjit
nasehat
AYAH
10 Hal Yang Tak Terbeli Dengan Uang
Malaikatku
Mama siap mengajarkannya dengan sabar dan penuh perhatian..
mau jadi apa saya kalo kemaren kemaren ga ada mama..
dan rekor yg paling berharga di dunia adalah kemampuan mengenali diri saya.
saya tak butuh adanya rekor paling tinggi di dunia, paling pendek, paling ganteng, paling aneh. semua itu tak memberi efek ke kehidupan saya.
namun pemegang rekor dunia yang paling mampu mengenali saya itulah yang terbaik..
dia adalah..
panggung sandiwara
musuh negara
IDEALNYA SEORANG PEMUDA
Berhati emas, Berpotensi prima,
Yang di kala damai
Anggun petaka kijang dari padang perburuan
Yang di kala perang
Perkasa bak harimau kumbang
Ia perpaduan manis hempedu
Satu kali dengan kawan
Lain kali dengan lawan
Yang lembut dalam berbahasa
Yang teguh membawa suluh
Angannya sederhana
Citanya mulia
Tinggi keutamaan dalam hati-hati
Tinggi budi, rendah hati
Ia lah sutera halus di tengah sahabat tulus
Ia lah baja
Ditentangnya musuh durhaka
Ia ibarat gerimis atau embun tiris
Yang memekarkan bunga-bunga
Yang melambaikan tangkai-tangkai
Ia juga puting beliung
Yang melemparkan ombak menggunung
Yang menggoncangkan laut ke relung-relung
Ia lah gemercik air ditaman sari, asri
Ia juga penumbang segala belantara
Segala sahara
Ia lah pertautan agung iman Abu Bakar
Perkasa Ali Papa Abu Dzar Teguhnya Salman
Mendirinya di tengah massa yang bergoyang
Ibarat lentera ulama di tengah gulita sahara
Ia pilih syahid fisabilillah atas segala kerusi dan upeti
Ia manuju bintang Menggapai malaikat
Ia tentang tindak kuffar Pola aniaya di mana saja
Maka nilainya pun membumbung tinggi
Harganya semakin tak terperi
Maka siapakah yang akan sanggup membelinya
Kecuali Rabb-nya...?
-Smoga brmanfaat-
kalian yang ku kenal dahulu..
Hujan menjadi saksi semangat yang menggebu
Seperti tetesan hujan sore itu, membasahi bumi yang ku pijak
Begitu pun, loncatan semangat pijar kejora hiasi langit malam
Yang kian indah kemilau cahayanya
Seperti yang ku lihat sore itu
Ketika riuh riang anak manusia yang tak pernah lelah dalam pencarian
Yang terdengar hanya senandung nyanyian priyayi
Yang terlihat hanya ceria warna pelangi
Yang tersentuh adalah memoar rindu tentang dirinya yang ku kenal dahulu
Masih jelas dalam ingatan cerita kecil waktu itu
Ketika mereka bertanya tentang perjuangan..
Pengorbanan.. dan kebahagiaan
Masih jelas dalam ingatan
Ketika lontaran tanya dengan polos kau ajukan
Akan apa yang tak kau mengerti
Hingga kini pun, masih belum dapat kami beri jawaban
Masih jelas terekam dalam ingatan
Ketika semangat mu yang tak terkalahkan
Menghadapi realita yang teramat pragmatis
Kau lawan, dan runtuhkan KETIDAKMUNGKINAN
Ku ingat, kala itu dalam sebuah perjalanan
Ragamu tak mampu menyimpan luapan semangat
Ketika yang lain tak mampu menerjemahkan kata dalam untaian kalimat seorang pemimpi
Masih jelas dalam ingatan
Ketika isak tangis dan Tanya
Akan sesuatu yang sungguh tak logis
Kau tak akan menerimanya, hingga nalar dan naluri berkompromi
Untuk kalian, para pembelajar
Yang tak pernah puas dengan jawaban
Yang tak ingin terlena dengan cerita dongeng
Yang ingin mencari apa yang tak kau temukan
Tentang apa yang selama ini kalian Tanyakan
Kini, yang ku lihat
Adalah mereka yang telah meruntuhkan benteng keangkuhan
Keegoisan, dalam bingkai perjuangan yang teramat indah..
Hingga senja pun tak tampak
Dalam selimut gelapnya awan
Yang meneteskan butiran air
Memberi kesejukkan, dan menguji bukti kesungguhan dalam perjuangan
Kini, yang ku lihat
Adalah sosok pribadi dewasa
Dengan sikap ksatria dalam mengemban amanah dengan segala konsekuensi
Begitu cepat kalian berubah
Yang tersisa hanya memoar rindu
Akan tawa.. canda.. dan pertikaian yang pernah ada
Begitu cepat kalian berubah
Mengais ilmu yang sedikit pun tak pernah kami temukan ketika dahulu
Menjawab kerinduan kami akan warna-warni yang ku lihat kini
Ini, yang sesungguhnya kami cari
Sungguh pun,
Torehan catatan ini
Kami tak berharap membuat langkahmu menjadi terhenti
Karena sesuatu yang tak kami miliki
Telah kau miliki
Aku hanya ingin kalian tau
Betapa ini yang kami cari
Namun satu yang tak pernah berubah dalam diri kalian
Selalu menjadi lilin makna dalam hidupku
bahagia dalam balut pilu
Siang yang cukup panas, membuat badan ini lelah dan meminta haknya untuk istirahat. Ku tahu tak ada ruang untuk lengah, atau pun jeda. Putaran waktu yang tak kan mampu ku henti, hingga bulir pasir dalam jam pasir terus berjatuhan dalam irama denting.
Pun dengan siang itu, aku tetap memaksakan melakukan aktivitas penelitianku. Hingga obrolan seorang dokter dan keluarga pasien memecah konsentrasiku. Laki-laki kurus itu, ku ketahui dari obrolan mereka adalah seorang Ayah dari bayi yang baru lahir beberapa hari yang lalu yang saat ini sedang dalam perawatan intensif di ruang perinatal.
Sekilas, orang dapat menilainya dengan tepat. Kaos polos yang sudah mulai memudar warnanya, menandakan sering dicuci dan terpapar terik matahari. Hitam legam kulitnya petanda begitu dekatnya ia dengan paparan sang surya. Berjibaku dengan pekerjaan kasar demi kepingan rupiah. Memastikan masih ada nasi yang sudi mengisi perut keluarganya. Mencoba bertahan dalam himpitan keadaan yang tak dapat berkompromi dengan kebutuhan keluarganya. Semua memaksanya untuk memiliki rupiah demi bertahan hidup.
Sorot matanya kosong, jauh memandang lorong panjang rumah sakit. meski sesekali ia memandang wajah dokter yang sedang bicara padanya. Kakinya seperti tak kuasa menopang tubuh kurusnya. Baginya penjelasan sang dokter mengalir bagaikan cairan garam pada luka. Perih, ngilu.. Tak ada yang keliru sedikit pun dari penjelasan sang dokter. Begitu jelas menggambarkan kondisi sang bayi. Ternyata sang bayi lahir dalam keadaan premature dengan sepsis klinis dan myosin aspiratori syndrome. Sehingga memerlukan perawatan intensif dengan waktu yang sangat lama karena semua organnya belum matur dan resiko tinggi infeksi. Sang Ayah tetap memaksakan keinginannya untuk membawa pulang bayinya. Namun sang dokter pun, tetap memegang prinsip patient safety untuk bayinya. Hingga Ayah si Bayi pun terdiam, ku lihat lipatan di keningnya. Matanya semakin sayu, menahan debit mata air yang coba ia tahan. Akhirnya dia pun pergi, meninggalkan ruangan.
Ku tahu, bukan dia tak bahagia atas kelahiran bayinya. Namun, ia berada dalam kesadaran yang nyata akan kondisi ekonomi keluarganya. Ketika keluarga lain disibukkan dengan memberi kebutuhan bayi mulai dari perlengkapan mandi, baju, mainan atau asuransi pendidikan dan kesehatan yang akan dipilihnya. Lain lagi dengan Sang Ayah B, (untuk memudahkan saya memanggilnya). Menjelang kelahiran bayinya, tak henti-hentinya membuat malamnya gelisah memikirkan segala kebutuhan sang bayi. Bagaimana dia akan menghidupi keluarganya dengan penambahan personil baru. Terlebih lagi dengan biaya perawatan dalam jangka waktu yang tak dapat dipastikan untuk kesehatan bayinya. Semakin menyesakkan dadanya.
Ku amati ia dari dalam ruangan. Langkah kakinya berjalan pelan dan lunglai. Hingga dia pun menjatuhkan tubuhnya di kursi tunggu. Kaki kurusnya tak kuasa lagi menopang badan. Ku lihat ada seorang wanita paruh baya menghampirinya. Aku hanya bisa menebak, mungkin itu adalah Ibu dari laki-laki itu. tepatnya nenek bayi. Dalam keraguan aku ingin menghampirinya. Sekedar menyapa atau mungkin ingin bertanya tentang mereka lebih jauh. Ya.. akhirnya aku beranikan diri. Aku tahu, kehadiranku mungkin tak meringankan beban mereka. Ah.. biarlah.. aku hanya ingin berbagi sedikit ilmu dengan mereka. Ilmu yang pernah mengajariku mempertahankan suatu hak atas kewajiban yang ku tunaikan. Begitu pun, aku ingin ia mendapatkan haknya.
Sang Ayah pun gugup dengan kehadiranku. Dia menggunakan bahasa Jawa yang membuatku sulit berkomunikasi. Aku hanya bertanya, apakah dia mempunyai asuransi kesehatan? Seperti jamkesmas? Dia menggeleng. Begitu asing dengan istilah yang aku sebutkan. Aku mencoba menarik nafas. Dan aku uraikan bagaimana mekanisme yang harus dilewati Bapak itu. Meskipun ada informasi yang aku sembunyikan, yang tak ku sampaikan. Apakah masih ada kuota jamkesmas didesanya? Karena jika penuh maka ia pun tak dapat memilikinya. Namun, disamping jamkesmas yang merupakan anggaran APBN jaminan social kesehatan yang bisa diakses si Bapak adalah Jamkesda yang alokasi anggarannya dari daerah. Tapi, aku urung memberitahu informasi ini. Karena akan membuatnya perih dan putus asa. Bahwa kini, terhitung tanggal 1 Januari 2010 APBD tidak menyediakan anggaran untuk jamkesda.
Polemik macam apa lagi ini. Yang kecil semakin terkucilkan. Seperti sel tak berjeruji. Kejahilan yang terpelihara oleh kerakusan. Karena begitu banyak masyarakat yang tidak mengetahui haknya dalam akses jaminan pelayanan kesehatan. Tersimpan rapih dalam laci-laci nepotisme. Ditengah upaya pengadaan mobil mewah para menteri dan anggaran pesawat presiden. Akankah kembali terlupakan…? Memastikan rakyatnya mendapatkan apa yang menjadi hak mereka.
Laki-laki itu, langsung berlari menyusuri lorong. Menyisir keberanian menghadapi para birokrat. Berjuanglah pa.. untuk sesuatu yang menjadi hak mu.. untuk buah hatimu.. dekaplah bahagiamu..
Ku tau..
Ini hanya cerita kecil tentang kondisi negeri kita. Masih banyak Bapak B yang lain, mungkin puluhan atau ratusan. Yang terpenjarakan dalam ketidaktahuan karena kerakusan oknum. Atau apakah.. mereka tak layak hanya untuk sekedar tau?..
Untuk mengingatkan
Sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari tentang
“Tujuh Keajaiban Dunia.”
Pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar
apa yang mereka pikir merupakan “Tujuh Keajaiban Dunia” saat ini.
Walaupun ada beberapa ketidaksesuaian, sebagian besar daftar berisi;
1) Piramida
2) Taj Mahal
3) Tembok Besar Cina
4) Menara Pisa
5) Kuil Angkor
6) Menara Eiffel
7) Kuil Parthenon
Ketika mengumpulkan daftar pilihan,
sang guru memperhatikan seorang pelajar,
seorang gadis yang pendiam,
yang belum mengumpulkan kertas kerjanya.
Jadi, sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai
kesulitan dengan daftarnya.
Gadis pendiam itu menjawab,
“Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena
sangat banyaknya.”
Sang guru berkata, “Baik, katakan pada kami apa yang kamu miliki,
dan mungkin kami bisa membantu memilihnya.”
Gadis itu ragu sejenak, kemudian mengatakan...
“Saya pikir, “Tujuh Keajaiban Dunia” adalah,
1) Bisa melihat,
2) Bisa mendengar,
3) Bisa menyentuh,
4) Bisa menyayangi,
Dia ragu lagi sebentar, dan kemudian melanjutkan,
5) Bisa merasakan,
6) Bisa tertawa,
7) Dan, bisa mencintai
Ruang kelas tersebut sunyi seketika.
Alangkah mudahnya bagi kita untuk
melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya “keajaiban”.
Sementara kita lihat lagi semua yang telah Tuhan karuniakan untuk kita,
kita menyebutnya sebagai “biasa”.
Semoga anda hari ini diingatkan tentang
segala hal yang betul betul ajaib dalam kehidupan kita...
jam
Jumlah pengunjung
Laskar X-Pan City
- Perawat Ksatria Indonesia
- Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia
- Dunia telah memberikan arti bagi hidupku. Saya hanyalah anak kampung yang tidak ingin ketinggalan dengan kemajuan teknologi. Bukan saatny orang kampung termarjinalkan. Sekarang adalah saatnya untuk maju. membuka bakat terpendam yang dimiliki oleh orang kampung seperti saya ini.
Perjalananku
- [TIPS] (8)
- anak (2)
- askep (6)
- bedah (10)
- bisnisku (5)
- curahan hatiku (9)
- dari sahabatku (10)
- gawat darurat (4)
- GIZI (1)
- hanya cerita (2)
- Hiburan (5)
- ilmu (22)
- ilmu jiwa (1)
- informasi (12)
- kulit (1)
- maternitas (2)
- motivasi (2)
- musik (1)
- my fam (1)
- obat (1)
- pedoman perawat (1)
- penyakit dalam (3)
- skripsi (1)
- SYARAF (1)
- teman (2)
- Untuk mengingatkan (11)
- VITAMIN (6)

.jpg)






